Penelitian akademik di perguruan tinggi keagamaan Islam menjadi salah satu prioritas Kementerian Agama (Kemenag RI). Melalui skema hibah penelitian, Kemenag mendorong dosen dan peneliti untuk menghasilkan karya ilmiah berkualitas yang relevan dengan agenda riset nasional. Bagi dosen PTKI yang ingin mengakses sumber pendanaan ini di tahun 2026, berikut panduan praktis yang bisa menjadi referensi.
1. Kenali Skema Hibah Penelitian Kemenag RI
Kemenag RI memiliki beberapa program hibah penelitian, salah satu yang paling menonjol adalah melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis). Dalam program ini, dosen PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) bisa mengajukan proposal penelitian berbasis Standar Biaya Keluaran (SBK) maupun skema pendukung mutu penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat.
Selain itu, ada juga program riset kolaboratif antara Kemenag dan LPDP yang disebut MoRA The Air Fund, dengan alokasi dana hingga Rp 150 miliar sepanjang 2024-2026. Program ini membuka peluang bagi dosen PTK dan Ma’had Aly untuk mendapatkan hibah riset besar, tergantung bidang penelitian.
2. Penuhi Persyaratan Peneliti dan Proposal
Berdasarkan pedoman teknis Kemenag, peneliti yang berhak mengajukan hibah adalah dosen PTKI yang memenuhi sejumlah kriteria. Dalam edaran Agenda Riset Nasional PTKI 2025–2029, dijelaskan bahwa peneliti wajib berasal dari PTKI, dan proposal yang diajukan harus sesuai dengan tema prioritas riset nasional.
Untuk proposal, ada beberapa hal esensial:
- Tema riset harus relevan dengan agenda riset nasional dan fokus prioritas dari Kemenag.
- Proposal perlu disusun dengan struktur yang jelas: latar belakang, metodologi, rencana output (misalnya publikasi ilmiah), dan rencana anggaran.
- Pengusul harus menyiapkan publikasi hasil penelitian di jurnal nasional atau internasional bereputasi, sesuai klaster yang ditetapkan.
- Pastikan proposal bebas dari plagiarisme: banyak seleksi hibah Kemenag melibatkan cek turnitin sebagai bagian verifikasi administrasi proposal.
3. Ikuti Alur Seleksi dengan Teliti
Proses seleksi hibah penelitian Kemenag umumnya melalui beberapa tahap: seleksi administratif, peer review oleh reviewer yang kompeten, dan seminar atau presentasi proposal sebelum penerimaan dana.
Misalnya, berdasarkan pedoman teknis Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, pengusul yang lulus seleksi administrasi akan diundang ke seminar/presentasi untuk mempertanggungjawabkan ide penelitian mereka.
Pastikan Anda:
- Menyusun proposal dengan jelas dan meyakinkan.
- Berlatih presentasi agar dapat mempertahankan gagasan penelitian saat seminar.
- Menyiapkan dokumentasi pendukung seperti CV, publikasi sebelumnya, dan riwayat penelitian.
4. Maksimalkan Sumber Dana dan Manfaat Kolaborasi
Memanfaatkan program MoRA The Air Fund bisa menjadi strategi jitu: selain mendapat dana besar, kolaborasi riset juga dapat memperkuat jaringan akademik dan reputasi penelitian Anda. Program ini membagi alokasi dana berdasarkan jenis penelitian: bidang sains dan teknologi maksimal Rp 2 miliar; sedangkan sosial-humaniora, kebijakan agama, dan pendidikan maksimal sekitar Rp 500 juta per proposal.
Selain itu, pastikan untuk menjalin kerja sama lintas disiplin dan antar perguruan tinggi, jika memungkinkan — hal ini sering kali menjadi nilai tambah dalam penilaian proposal hibah.
5. Perhatikan Ketentuan Administratif & Pelaporan
Setelah proposal diterima, penerima hibah harus memenuhi kewajiban administratif yang cukup ketat. Berdasarkan data dari Kemenag, peserta hibah penelitian wajib menyiapkan sejumlah dokumen seperti:
- Surat Perjanjian Kerja (kontrak hibah)
- Surat Pernyataan Kesanggupan Pelaksanaan Hibah
- Beberapa laporan (laporan keuangan, laporan kemajuan, laporan akhir) sesuai jadwal yang ditetapkan.
- Dokumentasi bukti penggunaan dana (kwitansi, invoice, bukti transfer, dsb.)
Selain itu, banyak hibah mengalokasikan dana dalam dua tahap: misalnya 70% di awal dan sisanya disalurkan setelah laporan kemajuan disetujui.
Pastikan Anda membaca petunjuk teknis (juknis) hibah dengan cermat agar tidak ada kelalaian administrasi.
6. Siapkan Strategi Publikasi Output Penelitian
Salah satu tujuan utama hibah Kemenag adalah menghasilkan penelitian yang bisa dipublikasikan dan berdampak. Oleh karena itu:
- Tentukan jurnal target (nasional/internasional) sejak awal saat menyusun proposal.
- Pastikan metodologi penelitian mendukung keluaran publikasi yang kredibel.
- Siapkan waktu dan sumber daya (misalnya penulisan artikel, biaya publikasi) dalam rencana anggaran.
- Lakukan diseminasi penelitian melalui seminar, workshop, atau konferensi untuk meningkatkan visibilitas dan relevansi hasil riset.
7. Manfaatkan Kebijakan Transparansi dan Akuntabilitas
Kemenag menekankan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam alokasi hibah. Menurut pedoman peningkatan mutu peneliti dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, program hibah diselenggarakan dengan asas kompetisi, akuntabilitas, dan tanggung jawab keuangan.
Sebagai pengusul, Anda perlu:
- Menyimpan semua bukti keuangan dan administrasi.
- Menjalin komunikasi dengan pengelola hibah di Kemenag untuk memastikan pelaporan berjalan lancar.
- Menghindari potensi masalah audit dengan menyiapkan dokumen lengkap sejak awal.
8. Tips Tambahan & Rekomendasi Sukses
- Ikuti pelatihan metodologi penelitian: Kemenag pernah menyediakan short course metodologi penelitian untuk dosen muda agar kualitas proposal meningkat.
- Jalin mentoring: Bekerja sama dengan dosen senior yang pernah mendapat hibah bisa membantu memperkuat proposal Anda.
- Gunakan data riset nasional: Sesuaikan topik penelitian dengan peta riset nasional PTKI (2025–2029) agar proposal Anda lebih relevan.
- Distribusikan beban kerja dalam tim: Jika mengusulkan penelitian tim, tetapkan pembagian tugas yang jelas (manajemen, penulisan, analisis data, publikasi).
Kesimpulan
Mendapatkan hibah penelitian Kemenag RI di tahun 2026 adalah kesempatan strategis bagi dosen dan peneliti PTKI untuk meningkatkan kualitas ilmiah dan memperluas kontribusi akademik. Kunci keberhasilan terletak pada pemahaman skema hibah (seperti SBK dan MoRA The Air Fund), persiapan proposal yang matang, pemenuhan kewajiban administratif, dan strategi publikasi yang jelas. Dengan mengikuti langkah-langkah praktis di atas dan tetap menjaga transparansi serta akuntabilitas, peluang Anda untuk memperoleh pendanaan riset akan semakin besar.









