Ketika program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mulai diterapkan, banyak dosen menyambutnya dengan antusias. Mahasiswa mendapat kesempatan belajar di luar program studi, mengikuti magang, penelitian, pertukaran mahasiswa, kewirausahaan, hingga kegiatan pengabdian. Namun, di balik peluang tersebut, muncul satu pertanyaan yang cukup sering terdengar di ruang dosen: “Apakah MBKM benar-benar memerdekakan, atau justru menambah pekerjaan dosen?”
Pertanyaan tersebut wajar. Sebab, implementasi MBKM tidak hanya mengubah cara mahasiswa belajar, tetapi juga mendorong perubahan dalam perencanaan pembelajaran, kurikulum, koordinasi dengan mitra, penilaian, hingga administrasi akademik.
MBKM dan Perubahan Peran Dosen
Secara konsep, MBKM mendorong pembelajaran yang lebih berpusat pada mahasiswa. Mahasiswa memperoleh ruang untuk mengembangkan kompetensi melalui pengalaman belajar yang lebih beragam, termasuk di luar kampus. Dalam pelaksanaannya, berbagai aktivitas tersebut tetap membutuhkan bimbingan dan pendampingan dosen.
Di sinilah peran dosen mengalami pergeseran. Dosen tidak hanya berdiri di depan kelas sebagai penyampai materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator, pembimbing, evaluator, dan penghubung antara mahasiswa dengan dunia kerja atau mitra eksternal.
Gagasan ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Dalam teori pendidikan progresivisme John Dewey, pembelajaran menekankan pengalaman langsung, aktivitas peserta didik, pemecahan masalah, serta refleksi. Kajian tentang MBKM juga menunjukkan adanya relevansi antara pemikiran Dewey dengan pembelajaran yang memberikan ruang kepada mahasiswa untuk aktif memperoleh pengalaman dan melatih kemampuan memecahkan masalah.
Dengan kata lain, dosen bukan kehilangan peran. Justru, peran dosen menjadi lebih kompleks.
Kapan MBKM Terasa Seperti Berkah?
MBKM bisa menjadi berkah ketika perguruan tinggi memiliki sistem yang jelas. Dosen tidak perlu mengurus semuanya sendirian karena sudah tersedia pembagian tugas, pedoman akademik, sistem konversi SKS, serta koordinasi yang baik dengan mitra.
Dari sisi pembelajaran, manfaatnya juga cukup menarik. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman nyata yang sulit diberikan hanya melalui perkuliahan di kelas. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan menunjukkan bahwa MBKM mendukung pembelajaran berpusat pada mahasiswa dan dapat membantu pengembangan kemampuan adaptasi serta soft skill melalui pengalaman belajar di lingkungan yang berbeda.
Bagi dosen, kondisi ini sebenarnya membuka peluang untuk membuat pembelajaran lebih kontekstual. Materi kuliah dapat dihubungkan dengan persoalan dunia kerja, kebutuhan industri, masyarakat, maupun perkembangan bidang keilmuan.
Kapan MBKM Menjadi Beban Tambahan?
Masalah muncul ketika kebijakan yang ideal tidak diikuti sistem pendukung yang memadai. Dosen bisa menghadapi pekerjaan tambahan berupa koordinasi mahasiswa, komunikasi dengan mitra, monitoring kegiatan, penyetaraan mata kuliah, penilaian, pelaporan, dan berbagai dokumen administratif.
Bahkan, kajian kebijakan Kampus Merdeka pernah mengidentifikasi persoalan seperti pengaturan beban dosen, penyesuaian kurikulum, pemenuhan hak belajar mahasiswa, pendanaan, hingga mekanisme rekognisi hasil kegiatan sebagai tantangan implementasi.
Temuan akademik yang lebih baru juga menunjukkan bahwa MBKM dapat meningkatkan koordinasi dan memperluas ruang belajar, tetapi pada saat yang sama berpotensi menciptakan kompleksitas administratif.
Jadi, persoalannya bukan semata-mata MBKM “baik” atau “buruk”. Kualitas implementasi sangat menentukan apakah MBKM menjadi berkah atau beban.
Apa yang Bisa Dilakukan Dosen Pemula?
Dosen pemula tidak perlu langsung merasa harus menguasai seluruh aspek MBKM. Mulailah dari memahami pedoman program, memetakan capaian pembelajaran, dan mengetahui bagaimana aktivitas mahasiswa dapat direkognisi secara akademik.
Selanjutnya, dokumentasikan proses bimbingan dengan rapi. Gunakan template laporan, kalender kegiatan, dan checklist sederhana agar pekerjaan administratif tidak berulang. Jangan ragu berkoordinasi dengan program studi atau tim MBKM ketika menemukan kendala.
Yang tidak kalah penting, pahami bahwa merdeka belajar bukan berarti dosen bekerja sendirian. Sistem kampus, program studi, mahasiswa, dan mitra perlu berbagi peran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
MBKM: Berkah Jika Dikelola dengan Bijak
Pada akhirnya, MBKM dapat menjadi berkah bagi dosen apabila diterapkan dengan perencanaan yang matang. Dosen mendapatkan kesempatan mengembangkan metode pembelajaran, memperluas jejaring profesional, dan membawa pengalaman dunia nyata ke dalam kelas.
Namun, jika koordinasi lemah dan administrasi terlalu berat, MBKM memang dapat terasa sebagai beban tambahan.
Karena itu, tantangannya bukan memilih antara “merdeka” atau “terbebani”, melainkan membangun sistem yang membuat dosen dan mahasiswa sama-sama dapat merasakan manfaat kemerdekaan belajar.
Jika Anda dosen pemula yang masih bingung memahami MBKM, menyusun pembelajaran, mengembangkan publikasi, atau menyiapkan dokumen akademik, tim admin PT Dinamika Intuisi siap memberikan konsultasi gratis. Silakan hubungi tim admin untuk mendapatkan arahan awal sesuai kebutuhan akademik dan publikasi Anda.
