Menjadi dosen bukan hanya soal mengajar di depan kelas. Dalam kesehariannya, seorang dosen bisa menghadapi berbagai pekerjaan sekaligus: menyiapkan materi kuliah, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, menulis artikel ilmiah, mengurus administrasi, mengikuti rapat, hingga menjalankan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Tidak heran jika kemampuan multitasking dosen sering dianggap sebagai keterampilan wajib. Namun, apakah mengerjakan banyak hal sekaligus benar-benar membuat pekerjaan lebih cepat selesai?
Ternyata, tidak selalu.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa otak manusia memiliki keterbatasan ketika harus berpindah-pindah di antara pekerjaan yang kompleks. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa perpindahan tugas atau task switching dapat menimbulkan “switching costs”, yaitu waktu dan energi mental yang terpakai setiap kali seseorang berganti fokus.
Psikolog David E. Meyer bahkan menjelaskan bahwa kita sering merasa sedang melakukan multitasking, padahal sebenarnya kita sedang melakukan task-switching. Setiap perpindahan tersebut membutuhkan penyesuaian mental sehingga pekerjaan dapat menjadi kurang efisien.
Lalu, bagaimana strategi menjadi dosen multitasking yang tetap produktif?
Bedakan Multitasking dan Task Switching
Langkah pertama adalah mengubah cara pandang. Multitasking bukan berarti mengerjakan lima pekerjaan berat secara bersamaan.
Misalnya, membaca jurnal sambil menyusun bahan presentasi dan membalas pesan mahasiswa mungkin terlihat produktif. Namun, perhatian sebenarnya terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
Untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti menulis jurnal ilmiah, menganalisis data, atau menyusun proposal penelitian, lebih baik gunakan sistem single-tasking. Fokus pada satu pekerjaan dalam periode tertentu, kemudian baru berpindah ke pekerjaan berikutnya.
Tentukan Prioritas Harian
Dosen pemula sering terjebak pada daftar pekerjaan yang terlalu panjang. Akibatnya, semua terasa penting dan semuanya ingin dikerjakan hari itu juga.
Cobalah membagi pekerjaan menjadi tiga kategori: harus selesai hari ini, penting tetapi bisa dijadwalkan, dan pekerjaan yang dapat didelegasikan.
Misalnya, mengoreksi skripsi mahasiswa yang memiliki jadwal sidang minggu ini tentu lebih mendesak dibandingkan merapikan folder dokumen lama.
Prioritas membuat energi tidak habis untuk pekerjaan yang sebenarnya bisa menunggu.
Gunakan Time Blocking
Salah satu strategi sederhana untuk mengelola manajemen waktu dosen adalah time blocking. Caranya, tentukan blok waktu khusus untuk jenis pekerjaan tertentu.
Contohnya:
- 08.00–10.00: menulis dan penelitian
- 10.00–12.00: mengajar
- 13.00–14.00: membimbing mahasiswa
- 14.00–15.00: administrasi
- 15.00–16.00: membaca dan membalas email
Jadwal tersebut tentu dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing dosen. Intinya adalah memberikan ruang khusus agar pekerjaan tidak saling mengganggu.
Kurangi Gangguan Digital
Notifikasi WhatsApp, email, media sosial, dan aplikasi kampus sering terlihat sepele. Namun, gangguan kecil yang muncul berkali-kali dapat menggerus konsentrasi.
Penelitian yang dirangkum APA menunjukkan bahwa interupsi teknologi dapat membuat seseorang sering berpindah tugas dan kehilangan fokus pada pekerjaan utama.
Karena itu, ketika sedang menulis artikel atau melakukan pekerjaan akademik yang membutuhkan konsentrasi, matikan notifikasi yang tidak mendesak. Tentukan waktu khusus untuk memeriksa pesan.
Buat Template untuk Pekerjaan Berulang
Dosen memiliki banyak pekerjaan administratif yang sifatnya berulang. Daripada membuat semuanya dari awal, manfaatkan template.
Buat template untuk surat, laporan kegiatan, catatan bimbingan, rubrik penilaian, daftar pemeriksaan artikel, hingga format dokumentasi penelitian. Strategi sederhana ini dapat menghemat waktu dan mengurangi beban berpikir.
Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan rutin, tetapi tetap gunakan penilaian akademik dan verifikasi manusia, terutama untuk pekerjaan yang berkaitan dengan data penelitian dan penilaian mahasiswa.
Sisakan Waktu untuk Pekerjaan Mendalam
Menjadi dosen produktif bukan berarti kalender harus penuh dari pagi sampai sore. Justru, sisakan waktu tanpa rapat dan tanpa gangguan untuk pekerjaan yang membutuhkan pemikiran mendalam.
Penelitian tentang multitasking menunjukkan bahwa performa cenderung menurun ketika seseorang harus menangani beberapa tugas sekaligus, terutama ketika tugas tersebut kompleks.
Karena itu, jadwalkan deep work untuk kegiatan seperti menulis artikel jurnal, membaca literatur, mengolah data, atau menyusun proposal penelitian.
Multitasking Boleh, Asal Tidak Kehilangan Fokus
Menjadi dosen multitasking bukan berarti harus mengerjakan semuanya secara bersamaan. Dosen yang produktif justru mampu mengetahui kapan harus berpindah tugas dan kapan harus fokus sepenuhnya pada satu pekerjaan.
Kuncinya adalah prioritas, manajemen waktu, pengurangan gangguan, penggunaan template, dan kemampuan mengatakan “tidak” pada pekerjaan yang belum mendesak.
Dengan strategi tersebut, banyaknya tanggung jawab dosen tidak harus selalu berakhir dengan stres. Produktivitas bukan tentang seberapa banyak pekerjaan yang disentuh dalam satu waktu, tetapi seberapa banyak pekerjaan penting yang benar-benar dapat diselesaikan dengan baik.
Jika Anda dosen pemula yang sedang menghadapi tantangan dalam publikasi ilmiah, penyusunan artikel jurnal, penelitian, atau pengembangan karier akademik, tim admin PT Dinamika Intuisi siap memberikan konsultasi gratis. Silakan hubungi tim admin untuk mendapatkan konsultasi awal sesuai kebutuhan akademik dan publikasi Anda.

