Di tengah tuntutan Tri Dharma dan target kenaikan jabatan fungsional, publikasi ilmiah sering menjadi tantangan terbesar bagi dosen. Banyak yang merasa harus bekerja sendiri agar “aman” secara penilaian, padahal publikasi kolaboratif justru bisa menjadi strategi efektif untuk meningkatkan angka kredit jika dilakukan dengan benar.
Kolaborasi bukan berarti mengurangi kontribusi pribadi. Sebaliknya, dengan pembagian peran yang jelas, kualitas riset meningkat, proses penulisan lebih efisien, dan peluang terbit di jurnal bereputasi menjadi lebih besar. Kuncinya adalah memahami aturan main dan menempatkan diri secara strategis dalam kolaborasi.
Artikel ini membahas cara meningkatkan angka kredit melalui publikasi kolaboratif secara cerdas, etis, dan sesuai praktik penilaian jabatan fungsional.
Memahami Posisi Publikasi Kolaboratif dalam Penilaian Angka Kredit
Dalam sistem penilaian jabatan fungsional, publikasi kolaboratif tetap diakui selama kontribusi penulis dapat dibuktikan. Artinya, bekerja dalam tim bukan halangan selama peran masing-masing jelas dan sesuai ketentuan.
Penilaian biasanya mempertimbangkan posisi penulis, jumlah penulis, dan jenis jurnal. Penulis pertama atau penulis korespondensi memiliki bobot kontribusi lebih besar dibanding penulis pendamping. Karena itu, memahami struktur kepenulisan menjadi hal mendasar sebelum memulai kolaborasi.
Kesalahan umum adalah ikut menulis tanpa mengetahui dampaknya terhadap angka kredit. Padahal, kolaborasi yang direncanakan sejak awal justru dapat mempercepat pemenuhan syarat Jafung.
Menentukan Mitra Kolaborasi yang Tepat
Kolaborasi yang produktif dimulai dari pemilihan mitra yang tepat. Idealnya, mitra memiliki keahlian yang saling melengkapi, bukan sekadar menambah jumlah penulis. Dengan kombinasi kompetensi, kualitas artikel meningkat dan peluang diterima jurnal lebih besar.
Selain kesesuaian keilmuan, komitmen juga penting. Kolaborasi dengan rekan yang disiplin dan komunikatif akan memperlancar proses dari riset hingga publikasi. Sebaliknya, kolaborasi tanpa kesepakatan yang jelas sering berujung konflik.
Sebelum memulai, sebaiknya disepakati tujuan publikasi, target jurnal, dan pembagian peran. Kesepakatan awal ini menjadi fondasi kolaborasi yang sehat dan saling menguntungkan.
Mengatur Posisi Penulis secara Strategis dan Etis
Posisi penulis adalah faktor krusial dalam penilaian angka kredit. Dalam publikasi kolaboratif, dosen perlu memastikan perannya sesuai dengan target jabatan fungsional. Jika membutuhkan nilai maksimal, posisi penulis pertama atau korespondensi sebaiknya menjadi prioritas.
Namun, etika akademik tetap harus dijaga. Posisi penulis harus mencerminkan kontribusi nyata, bukan sekadar kesepakatan administratif. Praktik ini penting untuk menjaga integritas ilmiah dan menghindari masalah di kemudian hari.
Dengan komunikasi terbuka dan pembagian tugas yang adil, pengaturan posisi penulis dapat berjalan lancar tanpa merugikan pihak mana pun.
Memilih Jurnal yang Mendukung Publikasi Kolaboratif
Tidak semua jurnal memiliki kebijakan yang sama terhadap publikasi kolaboratif. Beberapa jurnal lebih terbuka terhadap artikel multi-penulis, terutama jika risetnya bersifat interdisipliner atau lintas institusi.
Dosen perlu memahami kebijakan jurnal terkait jumlah penulis, afiliasi, dan peran korespondensi. Informasi ini biasanya tersedia di laman resmi jurnal dan penting untuk dibaca sebelum submit.
Memilih jurnal yang tepat tidak hanya meningkatkan peluang diterima, tetapi juga memastikan artikel tersebut diakui dalam penilaian angka kredit.
Mengintegrasikan Kolaborasi dengan Roadmap Riset
Publikasi kolaboratif akan lebih bernilai jika menjadi bagian dari roadmap riset jangka panjang. Dengan roadmap yang jelas, setiap kolaborasi memiliki tujuan dan kontribusi spesifik terhadap pengembangan keilmuan dan karier akademik.
Roadmap membantu dosen memilih topik yang konsisten dan relevan, sekaligus menentukan kapan harus berperan sebagai penulis utama atau pendamping. Strategi ini membuat publikasi lebih terarah dan berkelanjutan.
Tanpa roadmap, kolaborasi berisiko menjadi kegiatan sporadis yang kurang optimal dalam mendukung angka kredit.
Mengelola Bukti dan Administrasi Publikasi Kolaboratif
Publikasi kolaboratif memerlukan dokumentasi yang rapi. Bukti seperti LoA, artikel terbit, dan keterangan posisi penulis harus disimpan dengan baik. Ini penting untuk memudahkan verifikasi saat pengajuan Jafung.
Selain itu, jika diperlukan, dosen dapat menyiapkan penjelasan singkat tentang kontribusinya dalam artikel. Penjelasan ini membantu tim penilai memahami peran masing-masing penulis, terutama dalam artikel dengan banyak kolaborator.
Administrasi yang rapi akan menghindarkan dosen dari revisi atau penolakan akibat hal teknis.
Penutup
Publikasi kolaboratif bukan jalan pintas, melainkan strategi cerdas untuk meningkatkan angka kredit jika dilakukan dengan perencanaan yang matang. Dengan memilih mitra yang tepat, mengatur posisi penulis secara etis, dan menyelaraskan kolaborasi dengan roadmap riset, dosen dapat meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas publikasi. Kolaborasi yang sehat tidak hanya mempercepat kenaikan jabatan fungsional, tetapi juga memperkaya kontribusi akademik secara berkelanjutan.

