Punya Pertanyaan?

Edit Template

Cara Menyusun Proposal Penelitian Hibah PTKI agar Lolos Seleksi

admin harie

Writer & Blogger

Mendapat hibah penelitian dari Kemenag RI—apalagi lewat skema besar seperti MoRA The Air Fund atau Litapdimas—bisa jadi game changer untuk karier riset kamu. Tapi, persaingan ketat dan juknis yang ketat bikin banyak proposal kandas di seleksi administratif atau peer review. Berikut panduan praktis, santai tapi tajam, untuk menyusun proposal yang lebih berpeluang lolos pada 2026—dengan pegangan pada syarat dan ketentuan resmi Kemenag RI.

1. Pahami dulu skema dan prioritas pendanaan

Sebelum nulis: cek dulu program yang dibuka (SBK/Litapdimas, MoRA The Air Fund, dsb.), plafon dana per klaster, dan tema prioritas. Misalnya, skema MoRA The Air Fund membuka dukungan untuk berbagai kategori (sains-teknologi sampai sosial-humaniora) dengan plafon yang berbeda—beberapa kategori bisa mendapat alokasi besar hingga miliaran rupiah. Ketahui juga bahwa pendaftaran dan pengunggahan biasanya melalui platform resmi Litapdimas atau eRISPRO-LPDP—ikuti alur itu supaya proposal tidak langsung gugur.

2. Pastikan kamu memenuhi persyaratan administrasi dasar

Baca syarat calon peneliti dengan teliti: umumnya wajib WNI, berafiliasi dengan PTK/PTKI atau Ma’had Aly, punya rekam jejak akademik yang jelas, dan memenuhi kualifikasi minimal sesuai skema (S2/S3 atau jabatan fungsional tertentu). Lampirkan NIDN/NIDK, SK pengangkatan, CV lengkap, dan bukti publikasi. Kekurangan berkas administratif adalah penyebab kegagalan paling umum. Sumber: Kemenag RI

3. Pilih topik yang relevan dan punya impact nyata

Reviewer suka proposal yang bukan sekadar ide keren di atas kertas—mereka mencari kontribusi nyata: kebijakan, solusi masyarakat, inovasi teknologi, atau penguatan ekosistem pendidikan keagamaan. Kaitkan topik kamu dengan agenda riset nasional PTKI/Litapdimas supaya relevansi dan urgensi riset mudah ditangkap. Singkatnya: jelaskan siapa yang diuntungkan dan bagaimana hasilnya akan dipakai.

4. Susun struktur proposal yang rapi dan logis

Format standar: judul jelas → latar belakang & masalah → tujuan dan manfaat → tinjauan pustaka singkat → metodologi (detil) → output & diseminasi → timeline → anggaran realistis → lampiran (CV, surat dukungan, dsb.). Di bagian metodologi, jelaskan sampel, teknik analisis, dan tolok ukur keberhasilan—reviewer lebih suka metodologi yang bisa diuji ulang dan masuk akal secara biaya. Perhatikan format dan batasan kata/halaman dalam juknis agar tidak terdiskualifikasi.

5. Rincikan anggaran dengan jujur dan proporsional

Jangan terlalu ‘naikkan’ angka; juknis biasanya menjelaskan biaya yang boleh dan tidak boleh diajukan. Susun anggaran per kegiatan (persiapan, pengumpulan data, analisis, publikasi, kegiatan diseminasi) dan beri justifikasi singkat untuk tiap pos. Transparansi anggaran memudahkan proses administratif dan audit nantinya.

6. Perkuat proposal dengan bukti dan kolaborasi

Sertakan rekomendasi/dukungan institusi, surat kesediaan mitra (jika kolaboratif), atau data awal (pilot) bila ada. Kolaborasi lintas disiplin dan/atau dengan institusi bereputasi (dalam/luar negeri) sering jadi nilai tambah, khususnya pada program besar yang menghargai jejaring riset.

7. Perhatikan aspek kualitas tulisan dan anti-plagiarisme

Gunakan bahasa jelas, ringkas, dan akademis—tapi jangan kering. Hindari jargon berlebihan. Pastikan originality: banyak seleksi menyertakan pemeriksaan plagiarisme. Parafrase literatur dengan benar, sertakan rujukan yang relevan, dan lampirkan daftar pustaka sesuai kaidah.

8. Siapkan diri untuk presentasi & revisi

Bila proposal lolos administrasi, fase berikutnya biasanya peer review dan/atau seminar pemaparan. Latih presentasi singkat (10–15 menit), antisipasi pertanyaan metodologis dan soal manfaat, serta siapkan dokumen pendukung. Reviewer suka pengusul yang responsif dan siap memperbaiki proposal sesuai masukan.

9. Kelola pelaporan bila proposal lolos

Dapat dana bukan akhir—melainkan awal tanggung jawab: kontrak, laporan kemajuan, laporan akhir, dan bukti penggunaan dana harus rapi. Simpan kwitansi, invoice, dan dokumentasi kegiatan agar audit dan pelaporan berjalan mulus. Kedisiplinan pelaporan meningkatkan reputasi tim riset kamu untuk pendanaan selanjutnya.

Penutup: terapkan metode trial & improve

Lolos atau tidak, setiap kali mengajukan proposal kamu akan belajar—bedah reviewer comment, perbaiki bagian yang lemah, dan benahi administrasi tim. Gabungkan pendekatan akademik yang kuat dengan pengemasan yang rapi dan etika penelitian yang tinggi—itu kombinasi yang dicari Kemenag dan LPDP di 2026. Semoga sukses, dan semoga proposalmu jadi yang terpilih!

Bagikan

Related Post

  • All Posts
  • Artikel
  • News
  • Post

Tinggalkan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

  • All Posts
  • Artikel
  • News
  • Post

PT Dinamika Intuisi adalah penerbit jurnal ilmiah yang menjadi mitra strategis bagi peneliti, akademisi, dan praktisi dalam mempublikasikan riset berkualitas secara kredibel dan terbuka.

Layanan

SINTA 2-5

Copernicus

Trunitin

Mendeley

© 2025 Created with  Webcare Indonesia