Menjadi guru besar adalah impian banyak dosen di Indonesia. Jabatan akademik tertinggi ini bukan hanya simbol prestasi, tetapi juga pengakuan atas kontribusi ilmiah dan dedikasi terhadap dunia pendidikan tinggi. Namun, banyak dosen muda yang merasa perjalanan menuju guru besar tampak panjang dan berliku — penuh syarat administrasi, publikasi ilmiah, dan kegiatan tridharma yang tak ada habisnya.
Padahal, dengan strategi yang tepat, proses menuju guru besar bisa lebih cepat, terarah, dan realistis untuk dicapai bahkan sebelum usia 50 tahun. Artikel ini akan memandu Anda memahami langkah-langkah strategis agar karier akademik melesat dan impian menjadi guru besar segera terwujud.
Mulai dari Mindset: Jadikan Guru Besar Sebagai Target Karier
Banyak dosen yang terjebak rutinitas mengajar tanpa arah yang jelas. Padahal, menjadi guru besar bukan sekadar hasil kerja keras, tetapi juga hasil dari perencanaan karier akademik yang sadar dan terukur.
Langkah pertama adalah menanamkan mindset bahwa “guru besar” adalah tujuan profesional, bukan sekadar penghargaan di ujung karier. Dengan mindset ini, setiap aktivitas — dari menulis jurnal, mengikuti seminar, hingga membimbing mahasiswa — menjadi bagian dari strategi besar mencapai jabatan tersebut.
Tuliskan target Anda secara konkret: “Saya ingin menjadi guru besar pada usia 45 tahun.” Lalu uraikan langkah-langkahnya dalam peta waktu (timeline) lima hingga sepuluh tahun. Mindset terarah inilah fondasi utama seorang dosen cepat naik jabatan.
Pahami Peta Jalan Jabatan Fungsional
Tidak sedikit dosen yang tersandung karena tidak memahami mekanisme kenaikan jabatan fungsional. Padahal, setiap jenjang memiliki poin kredit (kum) yang jelas:
- Asisten Ahli → 150 kum
- Lektor → 200 kum
- Lektor Kepala → 400 kum
- Guru Besar → 850 kum
Untuk naik dari satu jenjang ke jenjang berikutnya, Anda harus memenuhi angka kredit yang ditetapkan berdasarkan unsur Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, pengabdian, dan penunjang.
Strategi cerdasnya: pelajari detail Permenpan RB No. 1 Tahun 2023 (atau peraturan terbaru). Pahami mana kegiatan yang menghasilkan poin besar dan bisa dikerjakan paralel. Misalnya, menulis buku ajar, mengelola jurnal, atau menjadi reviewer artikel ilmiah — semuanya berkontribusi besar terhadap kum.
Produktif dalam Riset dan Publikasi Ilmiah
Publikasi ilmiah adalah “mata uang utama” dalam karier dosen. Banyak yang berhenti di Lektor Kepala karena tidak punya publikasi internasional bereputasi. Untuk menjadi guru besar, minimal Anda harus memiliki artikel di jurnal internasional bereputasi (Scopus atau Web of Science).
Tips cepatnya:
- Bentuk kelompok riset kecil bersama kolega agar ide dan kerja terbagi.
- Fokus pada topik riset berkelanjutan yang sesuai bidang keahlian.
- Jadwalkan target publikasi per tahun (misal: dua artikel per tahun).
- Gunakan tools seperti Mendeley, Zotero, dan ChatGPT untuk efisiensi penulisan.
- Manfaatkan conference proceedings bereputasi untuk memperluas jaringan riset.
Ingat, publikasi bukan hanya syarat administratif, tapi juga rekam jejak intelektual Anda. Produktivitas publikasi akan mempercepat pengakuan akademik dan membuka peluang kolaborasi internasional.
Bangun Jejak Akademik Digital
Di era digital, reputasi akademik juga terbentuk secara online. Dosen yang cepat naik jabatan biasanya aktif membangun identitas akademik digital yang kredibel.
Mulailah dengan:
- Membuat akun Google Scholar, Sinta, Scopus ID, dan ORCID.
- Mengelola profil profesional di LinkedIn untuk jejaring global.
- Membagikan karya ilmiah di ResearchGate atau Academia.edu.
- Aktif menjadi narasumber, webinar host, atau penulis opini di media populer pendidikan.
Jejak digital yang kuat membuat nama Anda dikenal sebagai pakar bidang tertentu — hal ini sering mempermudah kolaborasi riset, undangan reviewer jurnal, atau penilaian jabatan guru besar.
Maksimalkan Tridharma Perguruan Tinggi
Selain penelitian, unsur pendidikan dan pengabdian masyarakat juga berperan penting. Kuncinya adalah sinergi antar unsur tridharma agar semua kegiatan saling mendukung dan tidak tumpang tindih.
Misalnya: kegiatan pengabdian kepada masyarakat bisa dijadikan bahan publikasi artikel terindeks nasional, atau dijadikan buku ajar untuk mata kuliah yang Anda ampu. Dengan strategi ini, satu kegiatan bisa “menghasilkan banyak nilai kum”.
Selain itu, rajinlah mencatat dan mendokumentasikan setiap kegiatan tridharma. Banyak dosen kehilangan waktu karena lupa mencatat kegiatan yang sudah dilakukan — padahal semua itu bernilai angka kredit.
Bangun Relasi dan Kolaborasi Ilmiah
Tidak ada guru besar yang berjalan sendirian. Keberhasilan akademik selalu lahir dari jaringan kolaborasi yang sehat.
Mulailah berjejaring dengan sesama dosen lintas kampus, terutama yang sudah lebih berpengalaman. Jadilah rekan penelitian, penulis bersama, atau anggota tim reviewer. Relasi semacam ini mempercepat proses publikasi dan memperluas peluang kegiatan akademik yang menunjang karier.
Bergabung dengan asosiasi profesi juga penting. Misalnya, Perkumpulan Dosen Indonesia (PDI), asosiasi keilmuan, atau lembaga riset. Dari sini, Anda bisa mendapatkan kesempatan menjadi narasumber, moderator, atau editor jurnal — semuanya menambah nilai akademik dan reputasi.
Manajemen Waktu dan Konsistensi
Kesalahan umum dosen muda adalah menunda. “Nanti saja menulis, setelah semester ini selesai.” Padahal, tidak ada waktu yang benar-benar luang dalam dunia akademik.
Strategi dosen cepat mencapai guru besar adalah disiplin waktu. Sisihkan waktu khusus 2 jam setiap hari untuk riset atau menulis. Gunakan to-do list mingguan dan evaluasi kemajuan setiap bulan.
Konsistensi kecil setiap hari jauh lebih efektif daripada bekerja maraton menjelang batas waktu kenaikan jabatan.
Bimbingan dan Mentor Akademik
Cari mentor — dosen senior atau guru besar yang bersedia membimbing. Mereka biasanya memahami seluk-beluk administratif dan strategi publikasi yang efisien. Belajar dari pengalaman mereka akan menghemat waktu Anda bertahun-tahun.
Mintalah masukan secara rutin mengenai portofolio akademik Anda. Mentor bisa membantu menilai apakah arah kegiatan Anda sudah sesuai dengan syarat kenaikan jabatan fungsional guru besar.
Penutup: Menjadi Guru Besar Itu Mungkin, Asal Strategis
Menjadi guru besar cepat bukan mitos, tetapi hasil dari strategi yang disiplin dan berkesinambungan. Mindset yang benar, riset produktif, publikasi berkelanjutan, dan jaringan akademik yang kuat akan membawa Anda sampai ke sana lebih cepat dari yang dibayangkan.
Ingat, jabatan guru besar bukan akhir perjalanan, melainkan awal kontribusi yang lebih luas bagi ilmu pengetahuan dan bangsa. Mulailah hari ini, rancang langkah Anda, dan jadikan setiap kegiatan sebagai investasi menuju puncak karier akademik.










