Kalau kamu dosen di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan mulai berpikir untuk ajukan riset kolaboratif, sekarang adalah momen yang pas. Kementerian Agama (Kemenag) bersama LPDP punya program MoRA The Air Funds yang memang dirancang untuk memperkuat ekosistem riset di lingkungan PTKI. Di artikel ini, saya akan mengulas strategi jitu agar proposal riset kamu punya peluang lebih besar untuk mendapatkan hibah di tahun 2026 — sambil tetap santai dan realistis, sesuai gaya peneliti berpengalaman.
Memahami Program & Alokasi Dana
Langkah pertama yang sangat penting adalah benar-benar memahami skema pendanaan MoRA The Air Funds. Program ini hasil kolaborasi antara Kemenag dan LPDP, dibawahi oleh Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kemenag.
Budget yang disiapkan pun cukup besar dan strategis: dari 2024 hingga 2026, total alokasi mencapai Rp 150 miliar untuk riset dosen PTK dan Ma’had Aly. Terdapat empat tema utama riset yang didukung: sosial-humaniora, ekonomi & lingkungan, kebijakan pendidikan dan keagamaan, serta sains & teknologi. Untuk tiga tema pertama, plafon dana maksimal adalah Rp 500 juta, sementara untuk sains dan teknologi bisa naik hingga Rp 2 miliar.
Dengan angka dan prioritas tema yang jelas, kamu bisa merancang proposal yang relevan secara strategis dan sesuai dengan visi Kemenag-LPDP.
Strategi Menentukan Mitra Kolaboratif
Salah satu poin penting dari program ini: kolaborasi. MoRA The Air Funds mendorong riset multi-helix, yang artinya kamu bisa (dan sebaiknya) bekerja sama dengan peneliti dari PT lain, lembaga riset, hingga dunia usaha dan industri.
Lebih konkretnya, untuk periset utama dari PTKI, Kemenag mengutamakan kolaborasi dengan mitra dari perguruan tinggi dalam atau luar negeri yang masuk peringkat 500 QS World University Rankings. Jika kamu bisa melampirkan surat persetujuan dari mitra (semacam letter of commitment atau matching funds), proposalmu akan terlihat lebih kredibel dan kompetitif.
Selain itu, kerja sama dengan lembaga riset lokal, universitas umum, atau industri (DUDI) tidak hanya memperkuat aspek ilmiah, tapi juga membuka peluang luaran riset yang berdampak: publikasi internasional, paten, produk teknologi, atau model sosial.
Menyusun Proposal Berkualitas
Setelah mitra dipilih, tantangan selanjutnya adalah bagaimana menyusun proposal yang berdampak dan disukai reviewer. Berikut beberapa strategi:
- Bangun latar belakang riset yang kuat dan relevan:
Jelaskan secara jelas konteks permasalahan yang hendak kamu teliti, kenapa riset ini penting bagi keilmuan PTKI, masyarakat, dan kebijakan Kemenag. Kaitkan dengan isu-isu terkini, misalnya tantangan pendidikan agama, keberlanjutan sosial, atau teknologi keagamaan. Karena tema MoRA sangat strategis, proposal yang mampu menunjukkan relevansi tinggi dengan prioritas riset nasional akan punya nilai tambah. - Metodologi riset yang realistis dan rigour:
Gunakan metode penelitian yang jelas, deskripsikan sampel, instrumen, teknik analisis data, serta cara kolaborator akan terlibat. Paparkan tahapan riset (timeline) dengan rinci, terutama jika penelitian dijalankan multi-year (1–3 tahun) seperti yang diizinkan oleh program ini. - Pastikan juga kamu merencanakan bagaimana luaran riset akan dihasilkan: jurnal, laporan kebijakan, produk intelektual, dan lain-lain.
- Rencana diseminasi dan keberlanjutan:
Selain penelitian, reviewer akan tertarik pada rencana diseminasi hasil: seminar, workshop, publikasi buku/jurnal, bahkan kerja sama dengan industri atau pemerintah. Tunjukkan bahwa risetmu tidak akan terhenti saat dana habis, tetapi bisa berlanjut menjadi kolaborasi jangka panjang atau diadopsi oleh pemangku kepentingan (stakeholder) terkait.
Memastikan Syarat Periset Terpenuhi
Biar proposal kamu tidak ditolak di awal, syarat administratif periset utama harus dipenuhi dengan teliti. Berdasarkan pedoman resmi, berikut beberapa hal yang wajib diperhatikan:
- Periset utama dari PTKI harus Warga Negara Indonesia (WNI).
- Kualifikasi akademik minimal: lulusan S3 (doktor) dengan pegawai jabatan fungsional sekurang-kurangnya Lektor.
- Sinta Score (overall) minimal: dalam beberapa pengumuman disebut 50, tapi di ketentuan pendaftaran resmi, PTKI diminta skor SINTA minimal 100.
- Diutamakan kolaborasi dengan mitra dari perguruan tinggi luar negeri (QS ranking top 500) untuk meningkatkan bobot proposal
Pastikan CV kamu komprehensif: catat publikasi, pengalaman riset, paten, pengabdian masyarakat, dan kerjasama internasional (jika ada). Dokumen administrasi ini akan jadi dasar evaluasi awal oleh tim seleksi.
Strategi Daftar & Pengajuan Proposal
Timing pendaftaran sangat penting. Berdasarkan pengumuman resmi, pendaftaran untuk MoRA The Air Funds dibuka 13 Oktober 2025, dan periode submit proposal adalah 23 Oktober hingga 7 November 2025 melalui aplikasi eRISPRO-LPDP. Alhasil, masa pendaftaran sudah ditutup.
Namun, jangan berkecil hati. Masih banyak peluang riset lain yang bisa kamu ikuti, di antaraya yaitu:
1. Hibah Riset dari Diktiristek (Kemendikbudristek)
Walaupun PTKI berada di bawah Kemenag, dosen PTKI boleh mengikuti hibah penelitian dari Diktiristek (Simlitabmas) selama memiliki NIDN dan kampus terdaftar di PDDikti. Banyak dosen UIN/IAIN sudah memenanginya setiap tahun.
Skema yang dapat diikuti:
- Penelitian Dasar
- Penelitian Terapan
- Penelitian Pengembangan
- Penelitian Kompetitif Nasional
- Kolaborasi internasional (PUPI, WLP etc.)
Kelebihan: peluang besar, luaran jelas, pendanaan konsisten tiap tahun.
Waktu buka: biasanya Maret–April setiap tahun.
2. Riset Keagamaan dari Balitbang-Diklat Kemenag
Kemenag tetap membuka riset di bawah Balai Litbang maupun Puslitbang setiap tahun meski bukan hibah besar seperti MoRA.
Jenisnya:
- Riset kebijakan pendidikan Islam
- Riset sosial-keagamaan
- Survei nasional
- Penelitian kompetitif berbasis tema strategis
Dana: lebih kecil, tapi prosesnya lebih cepat dan peluangnya besar bagi dosen PTKI.
Waktu buka: biasanya pertengahan tahun (Mei–Juli).
3. Pendanaan Riset dari BRIN
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka Pendanaan Riset dan Inovasi Indonesia (PRN/DRTPM versi BRIN) yang dapat diikuti oleh semua peneliti, termasuk dari PTKI.
Skema unggulan:
- Riset dasar
- Riset pengembangan
- Riset tematik prioritas nasional
- Kedaireka/Matching Fund (kemitraan dengan industri)
Kelebihan: dana besar, kolaborasi luas, sangat prestisius.
Catatan: butuh konsorsium atau jejaring tim yang kuat.
4. Hibah Kolaborasi Internasional
Jika kamu aktif jejaring, ada banyak hibah luar negeri yang bisa dimasuki tanpa harus menunggu hibah nasional:
Skema yang relevan:
- Fulbright Research
- Erasmus+ Capacity Building
- LPDP–ROR (Riset Over The Rim)
- Australia Awards Grants
- Newton Fund (UK)
- Japan Foundation Grants
- Islamic Development Bank (IsDB) Research Grants
Kelebihan: dana besar dan reputasi internasional.
Syarat umum: kemampuan bahasa Inggris, jejaring mitra luar negeri, proposal yang kuat.
5. Hibah Internal PTKI
Banyak kampus PTKI menyediakan pendanaan internal melalui:
- LP2M/LPPM
- Unit riset fakultas
- Pusat studi di kampus
Meskipun dananya kecil (10–50 juta), hibah internal sangat penting sebagai:
- modal awal riset,
- pembentuk rekam jejak,
- syarat untuk hibah eksternal tingkat nasional/internasional.
6. Program Pendanaan Industri & CSR
Dunia usaha juga membuka hibah tematik, misalnya:
- CSR Perbankan Syariah
- Lembaga zakat (BAZNAS, LAZNAS)
- Perusahaan energi
- Perusahaan telekomunikasi
Biasanya mendukung riset seperti:
- pemberdayaan ekonomi UMKM
- literasi keuangan syariah
- digitalisasi pendidikan
- inovasi sosial
Jika proposalmu relevan dengan kebutuhan industri, peluangnya besar.
7. Program Matching Fund (Kampus–Industri)
Dibuka setiap tahun oleh Kemendikbud. Dosen PTKI bisa ikut jika menggandeng mitra industri.
Dana bisa 200 juta hingga 2 miliar tergantung jenis program.
8. Program Riset dari Pemda / Bappeda
Banyak pemerintah daerah membuka kolaborasi riset untuk mendukung:
- kebijakan sosial
- pendidikan
- keagamaan & toleransi
- ekonomi daerah
Biasanya tidak diumumkan terbuka, tetapi melalui jejaring dan komunikasi langsung.
Apakah peluang di 2026 masih terbuka?
Ya. Meski MoRA The Air Funds sudah tutup, program pengganti atau batch lanjutan hampir pasti dibuka karena ini program kerjasama jangka panjang Kemenag–LPDP sampai 2026. Tinggal menunggu jadwal resmi.
Langkah terbaik:
- pantau situs resmi: kemenag.go.id
- pantau akun IG resmi Puspenma, Balitbang-Diklat
- siapkan proposal lebih awal
- jalin kolaborasi dengan PT luar negeri/top 500 dunia
Setelah lolos seleksi, kamu harus siap untuk fase pelaksanaan dan pelaporan: laporan kemajuan, laporan akhir, dan pertanggungjawaban keuangan adalah kewajiban yang tidak bisa diabaikan. Sistem pelaporan ini sangat penting agar dana riset dapat dikelola secara transparan dan efisien.
Kiat Tambahan agar Proposal Lebih Kompetitif
- Bangun jejaring riset sejak dini. Ikuti konferensi, seminar, atau workshop, terutama yang dihadiri peneliti dari PTU atau institusi luar negeri. Jejaring ini bisa menjadi pintu kolaborasi dan referensi reviewer.
- Siapkan letter of commitment. Surat kesepakatan dari kolaborator (termasuk dana sendiri/skema matching funds) cukup krusial untuk meyakinkan reviewer bahwa kolaborasi bukan sekadar kata-kata.
- Fokus pada dampak riset. Tekankan aspek manfaat nyata riset: kebijakan, sosial, keagamaan, atau teknologi. Riset yang mampu memberikan kontribusi nyata jauh lebih menarik bagi Kemenag-LPDP.
- Gunakan sumber daya kampus. Minta bantuan lembaga penelitian di kampus (LP2M, LPPM, lembaga riset) dalam memeriksa proposal, mengecek anggaran, dan menyusun timeline.
Penutup
Dana MoRA The Air Funds Kemenag-LPDP adalah peluang emas untuk dosen PTKI yang ingin mengembangkan riset kolaboratif bermutu tinggi. Dengan strategi yang tepat: memilih mitra kolaboratif, menyusun proposal riset dengan metodologi solid, memenuhi persyaratan administratif, dan mengatur diseminasi serta keberlanjutan riset, peluang kamu mendapatkan hibah bisa meningkat signifikan.
Jangan lupa: persiapan itu kunci. Koordinasi sejak awal dengan rekan riset, siapkan dokumen dengan matang, dan susun proposal yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga berguna untuk masyarakat dan kebijakan. Semoga strategi ini membantumu meraih dana riset dan mewujudkan riset yang berdampak.










