PUBLIKASI artikel ilmiah kini bukan lagi sekadar kewajiban bagi dosen atau peneliti—tetapi sudah menjadi bagian penting dari reputasi akademik dan karier profesional. Di Indonesia, salah satu tolok ukur pengakuan kualitas publikasi adalah SINTA (Science and Technology Index).
Bagi banyak penulis, istilah “terindeks SINTA” mungkin sudah akrab di telinga, tapi belum tentu semua tahu bagaimana cara agar artikel bisa benar-benar masuk ke daftar indeks tersebut. Nah, di artikel ini, kita akan bahas secara santai namun tuntas tentang tips dan strategi publikasi artikel ilmiah agar terindeks SINTA tahun 2025.
Apa Itu SINTA dan Kenapa Penting?
SINTA adalah platform resmi milik Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang berfungsi untuk mengindeks dan menilai kualitas publikasi ilmiah di Indonesia.
SINTA memberi peringkat pada jurnal dari SINTA 1 (tertinggi) hingga SINTA 6, berdasarkan kriteria seperti kualitas editorial, proses review, keterindeksan internasional, dan konsistensi publikasi.
Dengan artikel yang terindeks di SINTA, penulis akan mendapatkan pengakuan akademik lebih tinggi, meningkatkan skor kinerja dosen (BKD), serta peluang lebih besar untuk mendapatkan hibah penelitian dan kerja sama institusi.
1. Pilih Jurnal yang Sudah Terakreditasi SINTA
Langkah pertama dan paling penting: pastikan jurnal tujuan kamu memang sudah terindeks SINTA.
Kamu bisa mengeceknya langsung di https://sinta.kemdikbud.go.id/journals.
Gunakan fitur pencarian berdasarkan nama jurnal atau bidang ilmu. Pastikan jurnal tersebut aktif menerbitkan edisi terbaru dan bukan jurnal “tidur” yang jarang update.
🔎 Tips tambahan: Hindari jurnal predator yang menawarkan publikasi cepat tanpa proses review yang jelas. Artikel seperti ini justru berisiko ditolak oleh sistem SINTA atau bahkan dihapus dari daftar akreditasi.
📑 2. Pastikan Naskah Kamu Sesuai dengan Fokus dan Scope Jurnal
Banyak penulis gagal diterima bukan karena tulisannya jelek, tapi karena tidak sesuai dengan fokus jurnal.
Misalnya, kamu menulis tentang pendidikan sains, tapi jurnal yang kamu tuju fokusnya pada kebijakan pendidikan. Meskipun isinya bagus, besar kemungkinan naskah kamu tetap ditolak.
🧠 Strategi: Sebelum submit, baca 3–5 artikel terbaru dari jurnal tersebut. Dari sana kamu bisa tahu gaya penulisan, metodologi yang disukai, dan topik-topik yang sering diangkat.
💬 3. Tulis dengan Bahasa Akademik yang Efektif dan Jelas
Jangan terjebak dalam gaya bahasa yang terlalu “berat” atau bertele-tele. Editor jurnal lebih menyukai tulisan akademik yang ringkas, padat, dan logis.
Gunakan struktur yang umum:
- Pendahuluan – jelaskan masalah dan tujuan penelitian.
- Metode – uraikan pendekatan atau teknik penelitian.
- Hasil dan Pembahasan – sajikan data dan interpretasi secara seimbang.
- Kesimpulan – simpulkan temuan utama dan saran untuk riset berikutnya.
✍️ Gunakan bahasa Indonesia baku yang sesuai PUEBI jika jurnal nasional, atau bahasa Inggris akademik jika jurnal bilingual/internasional.
📊 4. Perkuat dengan Referensi Terbaru dan Relevan
Salah satu kriteria penting dalam penilaian artikel ilmiah adalah kualitas referensi.
Pastikan kamu mengutip dari jurnal bereputasi (Scopus, DOAJ, atau SINTA tinggi) dan literatur yang terbit dalam 5 tahun terakhir.
Gunakan alat bantu seperti:
- Mendeley atau Zotero untuk manajemen referensi,
- Google Scholar untuk mencari sitasi terbaru,
- dan hindari referensi dari blog atau sumber yang tidak akademik.
📚 Semakin banyak referensi kuat, semakin besar peluang artikelmu dianggap layak terbit.
🧩 5. Perhatikan Template dan Format Jurnal
Setiap jurnal memiliki template dan panduan penulisan sendiri. Ini bukan sekadar formalitas — kesalahan format bisa membuat naskahmu langsung dikembalikan bahkan sebelum direview.
Unduh template resmi dari situs jurnal, lalu ikuti secara konsisten, termasuk font, spasi, sitasi, dan gaya daftar pustaka (APA, IEEE, Chicago, dll).
⚠️ Banyak penulis menganggap remeh format, padahal editor biasanya menolak naskah jika formatting-nya berantakan.
🕒 6. Sabar Menjalani Proses Review
Setelah mengirim naskah, kamu akan melalui proses peer review. Ini bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Jangan frustasi kalau artikel kamu direvisi. Justru itu tanda bahwa reviewer benar-benar membaca dan memberi perhatian.
Baca masukan mereka dengan terbuka dan lakukan revisi sesuai instruksi.
💡 Ingat: Artikel yang melalui proses review ketat biasanya lebih dihargai dan punya peluang lebih besar untuk terindeks SINTA tinggi.
🧠 7. Bangun Reputasi Sebagai Penulis yang Konsisten
SINTA tidak hanya menilai artikel, tetapi juga profil penulis.
Jika kamu aktif menulis dan publikasi di jurnal bereputasi, skor SINTA pribadimu akan meningkat.
Daftarkan diri kamu di Google Scholar, ORCID, dan tentu saja akun SINTA resmi. Sinkronkan semuanya agar publikasi kamu mudah dilacak dan diakui.
🚀 Kesimpulan: Publikasi Ilmiah Bukan Sekadar Formalitas
Publikasi artikel ilmiah agar terindeks SINTA memang membutuhkan waktu, usaha, dan strategi yang tepat. Namun, hasilnya sepadan — reputasi meningkat, jaringan riset meluas, dan karier akademik pun lebih kuat.
Jadi, mulai dari sekarang, susun naskahmu dengan rapi, pilih jurnal yang tepat, dan jalani prosesnya dengan sabar. Dengan konsistensi dan strategi yang benar, bukan tidak mungkin artikelmu menjadi salah satu karya yang terindeks di SINTA 2025.









